Bramastana

Inspirasi Bisnis dan Traveling

Traveling

Njih, Jogja dan Traveling Pertamaku Dengan AirBnB [Bagian 4] End

Setelah kami tahu sudah tidak bisa masuk ke makam Sultan Agung, kami duduk sejenak untuk minum dan beristirahat. Kebetulan disebelah kami ada penjual minuman juga, dan kepada penjual tersebut Fisal memberanikan diri untuk bertanya-tanya tentang sejarah tempat ini, dia akhirnya membeli buku tentang sejarahnya serta kami diberi informasi bahwa untuk makam Sultan Agung memang sudah ditutup namun untuk ke makam Sultan Hamengkubuwono VII,VIII,IX masih dibuka.

Akhirnya aku dan fisal pun mencoba untuk kesana, ketaknya disebelah kiri sebelum jalan menuju ke makam Sultan Agung. Memasuki tempat tersebut dihimbau untuk tidak memakai sendal dan menggunakan pakaian khusus untuk bisa kesana. Aku mengenakan pakaian jawa, kain batik, serta blangkon untuk bisa kesana.

Ada juga seorang lagi yang menemani kami ke tempat makam. entah siapa namanya, orang tersebut memang berasal dari Jogja dan memang berniat untuk ke makam ini. Kami berjalan dengan lutut untuk mendekati tempat itu, buat yang belum tau pada aturan jawa kuno salah satu penghormatan kepada orang yang lebih tinggi adalah berjalan dengan lutut dan tidak boleh membelakanginya, jadi kita harus jalan mundur dengan lutut ketika mau keluar. Sebenarnya masih banyak daerah pedesaan di jawa menerapkan ini, bukan hanya pada Raja/Sultan tetapi juga kepada kyai, ustad, serta orang tua kita sendiri. Jika kalian ingin tau mungkin kalian bisa melihat caranya di film Kartini (R.A Kartini), disitu cukup jelas digambarkan bagaimana orang jawa dahulu.

Abdi dalem

Abdi dalem

Kami bertemu dengan juru kunci disana, dia memimpin doa serta orang yang bersama kami tadi menyerahkan dupa serta kemenyan untuk dibakar di prosessi doa. Aku dan fisal mengikuti doanya saja karena tidak mengerti juga maknanya hehe. Setelah berdoa dimakam orang tersebut berdoa kepada makam-makam Sultan Hamengkubuwana VII,VIII,IX yang ada, setelah itu dia menciumi makam tersebut, satu persatu kepada setiap makam. Aku dan Fisal saling berpandangan dan tampak sekali Fisal juga bingung apa yang harus dilakukan hahaha, akhirnya kami hanya diam dan keluar pelan-pelan. Sebelum keluar dari tempat itu kami sempat berbincang kembali dengan sang juru kunci, mengenai sejarah tempat ini.

Animisme dan Dinamisme nampaknya sulit untuk dihilangkan dari masyarakat kita. Pada awalnya memang kemenyan ini digunakan untuk sesaji memanggil roh nenek moyang. Tetapi pada awal penyebaran islam di pulau jawa, Sunan Kalijaga melakukan pendekatan ke dalam budaya masyarakat jawa, dengan menggunakan kemenyan sebagai wangi-wangian sebelum berdoa, agar nantinya lebih mudah dipahami oleh masyarakat jawa kala itu. Agar lebih jelasnya agan bisa melihat cuplikan video dibawah ini :

Setelah dari Imogiri kami menuju ke kosnya Fisal untuk bersitirahat sebelum ke Borobudur nanti. Perjalanan cukup jauh dari sini untuk menuju kos fisal ditambah lagi cuaca hari ini sedang panas-panasnya. Akhirnya kamipun sampai dan kecapaian disana. Kami memesan minuman dari aplikasi ojek online sembari bercerita panjang lebar. Menjelang magrib kami akhirnya memutuskan untuk membatalkan rencana kami untuk ke Borobudur karena sudah kelelahan dan khawatir jika besok tidak bisa berangkat pagi. Kamipun kembali ke penginapan dengan mengikuti rambu-rambu yang ada, karena entah kenapa internet di HP ku tidak berjalan padahal kuotaku juga masih banyak, untungnya kami tidak nyasar 🙂 hehe

Paginya kami menuju ke keraton, ini hari terakhir kami di Jogja karena nanti malam jadwal kereta kami untuk pulang sudah dipesan. Sebenarnya sayang pulang hari ini karena nanti malam dan besoknya ada acara besar di Jogja, karena bertepatan dengan 1 Syuro atau Tahun Baru Islam. Tapi kami harus segera kembali karena lusanya kami kembali kerja.

Kami mengunjungi keraton untuk melihat peninggalan dan sejarah-sejarah jogja disini. Ruagan-ruangan serta lingkungan yang masih sangat terjaga keasliannya. Aku sendiri cukup mengagumi arsitektur rumah-rumah di Indonesia pada masa dahulu. Tiang-tiang bangunannya terbuat dari kayu, dan kebanyakan rumah-rumah dahulu tidak langsung menyentuh tanah, melainkan ada beberapa kayu penyangnnya dibawahnya. Sehingga rumah-rumah pada jaman dahulu lebih tahan gempa.

Nenek moyang kita lebih mengerti cara membangun rumah dan mengenal betul lingkungannya yang sering terjadi gempa – Aku

Dan bukan hanya rumah-rumah di jawa tempo dulu, tetapi coba kita lihat rumah-rumah adar di Sumatra, Sulawesi, Nusa Tenggara. Kebanyakan dari kayu dan kebanyakan tidak langsung menyentuh tanah karena ada penyangga di bawahnya. Tak kalah indah dengan desain rumah-rumah orang jepang jaman dahulu, bisa kita mau pempelajarinya kembali. Yah namun sekarang ini faktor ekonomi membuat orang-orang lebih suka tipe rumah modern minimalis dari pada rumah nenek moyangnya, ya mau bagaimana lagi harga tanah saja sudah cukup mahal sekarang ini dan tidak muat kalau harus membangun rumah adat yang biasanya memiliki lahan dan halaman rumah yang harus luas.

Joglo

Joglo

Setelah dari keraton dan mendapat foto yang banyak hehe, kami menuju ke Tamansari yang saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore. Parkiran Tamansari masih buka, tetapi Tamansarinya sudah tutup wkwkw, untungnya kami diberitahu jalan pintasnya oleh tukang parkir agar bisa masuk. Komplek Tamansari ini berada diantara perkampungan warga. Banyak yang kesini karena memang harus kuakui ini tempat klasi yang bagus sekali untuk berfoto ria bersama.

Tak lupa kami membeli oleh-oleh dahulu di Malioboro untuk sekedar hadiah ke orang terdekat. Cukup 90rb untuk 6 kotak bakpia dipinggir jalan untuk kami bawa pulang. Sebenarnya aku ingin juga membeli blankon kemarin, tetapi aku mencari yang warna hitam tidak ada, kebanyakan berwarna coklat saja, dan akhirnya tidak jadi deh. Sorenyapun kami mengembalikan motor sewaan itu dan menuju ke stasiun. Di stasiun, Fisal membawakanku buku dengan wakil presiden kita yang dulu Bapak Budiono setelah kemarin aku bercerita kalau aku masuk manajemen sekarang. Kamipun akhirnya sampai malang dan kembali ke Batu dengan dijemput oleh adiknya Faisal.

Nah begitu kurang lebih perjalananku di Jogja kemarin, cukup panjang ternyata jika dituliskan di Blog. Untuk teman-teman yang telah membaca, terimakasih sudah meluangkan waktunya untuk membaca kisah yang absurb ini. Jangan lupa meninggalkan komentar juga yaah, dan bisa kalian tambahkan atau koreksi jika ada yang salah juga. Terimakasih 🙂

End

Leave A Comment