Bramastana

Inspirasi Bisnis dan Traveling

Traveling

Njih, Jogja dan Traveling Pertamaku Dengan AirBnB [Bagian 3]

Hari berikutnya kami ingin menuju candi prambanan dan borobudur, yang kebetulan hari itu ada festival payung di borobudur dan kata temanku masuknya jika ada festival. Sebelum berangkat kami sarapan dahulu dengan nasi goreng yang telah disiapkan oleh tuan rumah.

Oh ya, penginapan aku belum bercerita mengenai penginapan ini sebelumnya. Penginapan kami berada di jalan mantrijeron, cukup jauh aksesnya dari stasiun, tapi tempatnya cukup nyaman. Nama tempatnya “Casa de Vicky And Nono” kamu dapat dengan mudah menemukan tempatnya di google maps atupun langsung dari AirBnB, tetapi jika ingin mencari jalan menuju lokasi aku sarankan pakai google maps saja yang lebih akurat.

Tempat ini dikelola oleh pasangan jawa dan catalan (spanyol), jadi bu vicky merupakan orang catalan yang menetap di jogja, namun tidak usah khawatir, dia cukup lancar berbahasa Indonesia. Bahkan ketika aku baru memesan di AirBnB beberapa bulan sebelumnya, dia sudah chat aku lewat aplikasi untuk mengucapkan salam dan terimakasih. Sedangkan pak nono merupakan orang jawa.

Tempatnya cukup nyaman dengan beberapa hiasan terbuat dari kayu dan kamar mandi yang cukup bersih berhias kayu-kayu, seakan anda bisa poop dengan suasana outdoor disini. Banyak juga pernak pernik hiasan khas jawa seperti kain batik, topeng, dan juga keris. Disini kamu juga bisa memesan masakan ala spanyol seperti omlet kentang dan lain-lain. Tetapi kami belum mencobanya karena kami rasa perut kami hanya bisa kenyang jika ada nasinya. hehe

Ada juga beberapa turis asing yang menginap disini. terdengar sayup-sayup saat malam mereka sedang berbincang dengan bu vicky untuk tempat petualangan mereka di Jogja, ntah menggunakan bahasa mana, dan kurasa mereka pakai bahasa spanyol karena bu vicky juga berasal dari sana. Nah kira-kira seperti itu suasana penginapan kami kemarin.

Jam 9 pagi kami berangkat menuju prambanan, dengan berbekal motor reot dan google maps kami menuju kesana. Suasana Jogja pagi itu cukup terik dan panas. 30 menit dari penginapan menuju Prambanan, dan akhirnya kami sampai dilokasi. Kami langsung membeli tiket 40rb untuk satu orang dan langsung berjalan menuju candi-candi yang ada disana. Tempatnya cukup luas dan karena termpatnya terbuka terik panas pun cukup terasa. Kami berfoto di candi-candi tersebut, tambah besar dan gagah menjulang candi prambanan, maklum aku hanya pernah melihat candi kecil-kecil di jawa timur dan jarang sekali ada candi besar dan banyak seperti ini di tempat kami.

Candi prambanan

Candi prambanan

joglo jamu prambanan

Joglo jamu prambanan

Selesai berfoto dan melihat-lihat, kami memutuskan untuk beristirahat sejenak untuk mencari minuman. Sebuah joglo di dekat pohon rindang langsung kami datangi. Rupanya disana hanya menyediakan minuman-minuman tradisional tertama jamu. Aneka jamu ada disana, cuman karena aku tak suka pahitnya jamu akhirnya aku memesan beras kencur dan kunir asem saja. Di tempat ini sejuk sekali, walaupun panas matahari masih terik, tetapi hembusan angin disini cukup untuk membuat rasa lelah kami berkurang. Tempatnya juga menarik, dengan desain klasik serta ukir-ukiran kayu yang menawan, membuat kami cukup betah berlama-lama disini.

Cukup lama kami duduk-duduk di joglo itu, sebelum akhirnya teman kami yang lain “Fisal” mengabarkan kalau dia sudah menunggu di parkiran motor. Kamipun langsung menuju kesana dan membahasa sejenak mau kemana lagi kami selanjutnya. Waktu dhuhurpun tak dirasa telah tiba, kamipun langsung menuju masjid yang ada di dekat daerah situ. Selesai sholat kami mampir dulu untuk makan di warung soto, sembari membahas mau kemana kita selanjutnya. Soto disini juga cukup enak dan murah, hanya 12rb sudah dapat soto dengan daging ayam yang banyak, nasi, serta jeruk anget. Seperti sate kemarin yang bumbunya tampak tidak danmpak di daging ayamnya, soto ini juga seperti itu. Tetapi memang rasa dari kuahnya menjadikan soto ini tidak kalah enak dengan soto lamongan langgananku kalau di Batu.

Soto dekat prambanan

Soto dekat prambanan

Akhirnya kamipun memutuskan untuk menuju imogiri. Imogiri merupakan pemakaman raja-raja Mataram Islam hingga Yogyakarta saat ini. perjalanan sekitar 40 menit dari candi prambanan. Dan tempatnya sangat asri dan rindang karena banyak pepohonan di sana. Tidak ada tiket masuk di sini, hanya himbauan untuk mengisi kotak-kotak sumbangan dengan pengisian seikhlasnya. Kamipun langsung bergegas berjalan untuk menuju lokasi pemakamannya.

Masih jauh sal tempatnya ? – Aku

Tenang sudah tinggal sedikit – Fisal

Anak tangga imogiri

Anak tangga imogiri

Ya ternyata memang tinggal sedikit dan dekat tetapi ada ratusan anak tangga yang harus kami naiki untuk mencapai pemakamannya. hehe Kamipun sempat berhenti dua kali karena kecapean menaikinya. Dan akhirnya kami sampai atas juga. Banyak komplek pemakaman disini, mulai dari Sultan Mataram ke 3 hingga Sultan Hamengkubuwono ke IX. Namun sayang saat hendak memasuki makam sultan agung, ternyata sudah ditutup, dan hanya buka jam 10 pagi sampai jam 1 siang.

Tapi tidak apa, kurang lebih aku sudah mengerti sedikit cerita Sultan Agung ini ketika aku melihat film nya beberapa minggu sebelum aku berangkat ke sini. Aku tidak menyangka dan tidak tahu kalau sultan tersebut dimakamkan disini, bahkan yang mendirikan tempat ini adalah ide dari Sultan Agung sendiri. Mungkin sultan sedang memanggilku untuk sekedar menanyakan keadaan nusantara saat ini, hehe.

Sultan agung

Sultan agung

Okedeh aku ceritaiin sedikit tentang Sultan ini. Sultan Agung  atau Sultan Abdullah Muhammad Maulana Mataram adalah gelar yang diberikan oleh pemimpin Ka’bah di Makkah dalam prestasinya setelah mengembangkan Islam ditanah Jawa. Nama kecilnya sendiri bernama “Raden Mas Rangsang“. Dalam kepemimpinannya si sultan berhasil menggabungkan kembali daerah-daerah kerajaan Mataram yang telah terpecah belah. Dari mulai Jawa Timur hingga Banten.

Penyerangan ke daerah banten terhambat karena terhalang oleh daerah Batavia yang telah dikuasai VOC. Sultan agung dengan tanpa rasa takut memerintahkan penyerangan ke Batavia setelah sebelumnya VOC menolak untuk tunduk dibawah kerajaan Mataram. Penyeranganpun dilakukan dan memakan banyak sekali korban jiwa dari kedua belah pihak.Dengan taktik pengepungan benteng yang dikembangkannya, pihak Mataram berhasil memasuki benteng meskipun akhirnya kalah dan harus mundur kembali, ini prestasi besar kala itu karena pihak Mataram hanya menggunakan senjata keris, pedang dan tombak melawan senapan dan meriam Belanda. Belum lagi pasukan mataram bukan semuanya terlatih, sebagian besar bahkan seorang petani biasa bahkan kalangan brahmana (ulama).

Mukti Utawa Mati Ing Batavia – Perintah Sultan Agung

Karena perintah Sultan Agung tersebut, banyak pasukan Mataram yang terpotong kepalanya oleh pasukan Mataram lain karena tidak diperbolehkannya kembali lagi ke Mataram walaupun sudah kalah dan luka. Budaya malu dan setia yang sangat tinggi pernah ada di tanah ini, sungguh berbeda 360 derajat dengan senyuman-senyuman koruptor yang kerap kita liat di TV.

Tidak berhasil dipenyerangan pertama Sultan Agung memerintahkan untuk membangun lumbung-lumbung padi di sepanjang pantai utara jawa, untuk pasokan ketika penyerangan nanti. Namun gagal karena siasat itu sudah diketahui Belanda lewat orang pribumi sendiri yang berkhianat, dan akhirnya lumbung-lumbung padi tersebut dibakar oleh Belanda.

Sultan Agung sendiri sangat berambisi untuk mengusir bangsa Belanda dari tanah Jawa. Karena kedatangan bangsa Belanda sendiri sudah diramalkan oleh para Wali Songo (aku tidak tahu ini benar atau tidak, cmiiw) bahwa akan datang bangsa lain dengan kasta dhuca (kasta dibawah sudra) yang hanya peduli duniawi, keserakahan dan kerusakan di Nusantara.

Walaupun kalah kembali di penyerangan ke dua, tetapi pasukan Sultan Agung berhasil membendung dan mengotori sungai ciliwung seringga Batavia kala itu terjangkit wabah kolera. Bahkan membuat Gubernur jenderal VOC yaitu J.P. Coen meninggal dunia.

Merasa ajalnya sudah dekat Sultan Agung memerintahkan untuk membangun komplek pemakaman Imogiri ini. Dan jasad dari para penghianat Mataram tadi diletakkan di bawah tangga, tepat di antara gapura supit urang agar setiap orang yang kesana pasti menginjak jasadnya dan mengandung pesan kepada rakyatnya untuk tidak menjadi penghianat bangsa.

Wah panjang juga ya cerita sejarahnya, btw emang aku sendiri suka mempelajari sejarah jadi aku bersemangat menceritakannya kepada kalian. cukup sekian ya nanti aku lanjut lagi di bagian 4.

 

Leave A Comment