Bramastana

Inspirasi Bisnis dan Traveling

Traveling

Njih, Jogja dan Traveling Pertamaku Dengan AirBnB [Bagian 2]

Sampai di penginapan, kami langsung tepar dan untungnya ada kipas yang siap meniupi kami dengan anginnya. Namun aku tidak bisa langsung tidur karena jam 11 siang aku ada kuliah, walaupun aku cuma onlinekan akun ku saja karena aku yakin tak akan bisa fokus kalau lagi capek (fyi : kuliahku online, jadi bisa di manapun).

Jam 5 sore aku sudah kembali fit dan siap jalan-jalan lagi, namun si ansol masih sulit dibangunin. Akupun mau keluar kamar juga sudah malas, akhirnya beberapa no telepon untuk penyewaan motor aku coba hubungi. Yang pertama no penyewaan dari fisal, fisal ini teman smp ku dulu yang sekarang kuliah di jogja dan sudah aku mintain nomor telepon penyewaan sebelum aku berangkat disini. Setelah aku telepon rupanya harganya cukup murah hanya 60rb per hari, tetapi ternyata hanya menyewakan untuk mahasiswa yang kuliah di jogja saja.

Yang kedua aku telepon nomor dari kartu nama penyewaan ketika aku baru sampai di malioboro tadi, namun harganya cukup mahal 110rb untuk satu hari, alasannya karena ini hari libur panjang, akhirnya aku tolak karena setahuku ketika aku browsing-browsing kemarin harganya antara 60-80rb normalnya. Akhirnya aku malas telepon lagi dan keluar memesan grab ke tempat penyewaan motor dan ternyata sudah pada habis disewa, padahal pagi tadi waktu aku jalan menuju penginapan, disini masih banyak motor, wah seharusnya mulai pagi aku sekalian menyewannya.

Akhirnya si tukang grabnya menawarkan untuk mencarinya ke tempat yang biasa dia tau, dan tanpa melalaui pemesanan aplikasi jadi biar aku ga ribet dan dia juga dapat duit tunai tentunya, hehe, bisa aja kang ojeknih. Akupun setuju dan beberapa saat kemudian aku dapat tempat penyewaan motor dan tinggal dua motor saja, itupun udah yang paling jelek kurasa. Setelah deal dan dapat motor aku minta kang ojek untuk mengantarku ke atm, maklum aku jarang bawa uang tunai karena aku lebih boros kalau bawa uang tunai ditambah lagi jika pakai uang digital dapat banyak promo hehe.

Akupun menaiki motor tersebut menuju penginapan dengan hlem yang sudah ga bisa di klikkan pengikatnya dan motor yang gasnya tetep ngegas walau udah tidak di gas (gas e bandang klo orang malang bilang).

“Dijaga ya bang motornya, ini motor maling jelek di penyewaan ini soalnya” – kata si pemilik penyewaan

 

Alun-Alun Kidul dan Sate Tengkleng

Setelah sampai penginapan dan sholat magrib, kami berangkat menuju alun-alun kidul. Kami berencana ke alun-alun kidul dan malioboro malam ini, malioboro terakhir karena ada teman kami dari batu yang akan gabung nongkrong tapi baru bisa datang malam.

Sampai alun-alun kidul kita keliling-keliling dulu dan melihat suasana di sana. Mobil berhias lampu kerlap-kerlip memutari alun-alun secara beriringan, dengan beberapa orang berkaraoke gembira bersama dengan kawan-kawannya. Tapi yang kupikirkan cuman satu, aku lapar, dan aku makan apa ya disini ?

sate tengkleng

Sate tengkleng alun-alun kidul

Makanan makanan khas malam hari seperti nasi goreng banyak berjejer disini, serta beberapa camilan. Namun aku ingin suatu yang berbeda, makanan khas daerah sini. Aku duduk dan memesan sate tengkleng akhirnya, aku memesan kambing faisal pesan ayam. Satenya sedikit sekali bumbu menurutku, jika dibandingkan dengan sate madura, tapi ketika kalian merasakan campuran kuahnya, hmm mantab djiwa. Seperti sate tetapi dengan kuah bumbu gule, dan Satu lagi bedanya, disini tusuknya pakai seruji roda bukan bambu, jadi rada serem jika dijadikan tusuk gigi ketika dagingnya nyangkut digigi kalian.

“Aku ingin berdua denganmu, Di antara daun gugur” Lantungan musik dari para pengamen di alun-alun menemani makanku

Tak jauh beda dengan banyak alun-alun di jawa timur, yaitu jadi tempat muda-mudi jalan bersama pasangannya atupun nongkrong bareng teman-temannya. Setelah kenyang kami menuju parkiran untuk menuju ke malioboro. Dan ternyata, bentuk alun-alun ini memiliki sisi utara, selatan, kanan, dan kiri yang hampir sama. Kami bingung mencari dimana kami tadi memarkir motor. Cukup lama kami berkeliling disisi-sisi parkiran sampai akhirnya kami menemukannya, yah inilah akibatnya jika dua orang yang pelupa jalan bareng.

alun-alun kidul yogyakarta

Alun-alun kidul yogyakarta

Malioboro Tak Se Syahdu Pagi

Macet panjang dihadapan kami ketika hendak menuju ke malioboro, tapi kendaraan disini saling antri dengan rapi, hanya tampak satu dua sepedah motor yang melewati batas tengah jalan yang tampak lebih sepi. Ini lumayan membuatku kagum karena ketaatannya dan jarang kutemui di kota lain di malang sekalipun, apaladi jakarta. Atau mungkin orang-orang semua pada sabar dan sadar akan malam ini merupakan malam minggu dan tentunya bakal macet.

Setelah sampai jalan malioboro kami mencoba mencari parkiran, tetapi ternyata parkiran untuk malioboro ini ada di jalan yang kami lewati sebelumnya, sebuah parkiran bertingkat untuk menampung antusiasme kawasan ini, dan kami harus memutar dan melewati kemacetan itu lagi.

Kami kemudian berjalan menuju malioboro dan langsung mencari toko minuman sekitaran situ, kami berhenti dan membeli minuman di minimarket daerah sekitar situ. Sebelum akhirnya secara tiba-tiba teman yang aku ajak janjian bertemu di sini, si juan tiba-tiba masuk minimarket tempatku beli, aku terkejut karena kami sama sekali belum menentukan tempat pertemuan tetapi dia langsung datang sendiri. Rupanya dia langsung masuk minimarket karena kacamatanya patah saat menabrak besi di parkiran tadi, dan dia ke minimarket berniat untuk membeli lem katanya.

Ramai sekali malam ini, sangat kontras dengan suasana subuh tadi yang sangat lengang dan nyaman. Ngertilah malam ini merupakan malam minggu dan juga lebur panjang, dan tentunya banyak orang yang ingin menghabiskan liburannya di jogja ini. Kami bertigapun berbincang cukup lama sembari menunggu dua lagi teman kami yang akan menyusul. Si temanku juan ini kerjanya berpindah-pindah kota karena ditempatnya bekerja memiliki client di berbagai kota di Indonesia.

Dia juga kemarin yang aku ajak berdiskusi mengenai tempat-tempat di jogja saat dia sedang di batu. Dan sekarang sudah bertemu kembali. Kami pun disana berbincang cukup lama (ngertilah ketika cowok pada berkumpul ceritanya tentang apa, hehe). Sekitar jam 11 akhirnya aku hubungi lagi temanku yang dua itu dan ternyata mereka berada di solo, dan salah satunya masih bekerja dan baru pulang jam 12, jadi kemungkinan sampai jogja sekitar jam 2. Buset bisa tepar ntar aku paginya. Jadi kami bertiga memutuskan untuk kembali ke penginapan.

Sebelum kembali aku teringat akan sesuatu, dan aku harus mendapatkannya malam itu juga. Sesuatu itu adalan “Long Potato” hehe. Aku sangat menyukai fried french apalagi ini panjang kentangnya bisa sampai 30cm, jadi pasti seru tuk memakannya. Sebenarnya yang membuat panjang bukan jenis kentangnya, tetapi dari video yang ada di youtube, kentang tersebut di tumbuk jadi satu dan di masukkan ke dalam alat sehingga ketika di press panjangnya bisa lebih panjang dari kentang normal. Penjualnya ada di alun-alun kidul tadi, sebenarnya aku mau beli sedari tadi. Namun tadi kami masih sibuk mencari dimana kami parkir motornya. jadi aku urungkan niatku, walau akhirnya pingin juga.

Kamipun kembali ke alun-alun kidul dan nampaknya kini sudah lumayan sepi dari para manusia. Namun si penjualnya pun sudah tidak ada 🙁 yah tak apalah akhirnya kami kembali lagi ke penginapan, mandi dan tidur lagi.

Cukup sekiannya bagian ke 2 nya, nantikan bagian ketiga di blog ini juga

 

 

Leave A Comment